Memulai dan mencoba
Hari demi hari yang kulalui ini,di sela sela kegiatanku sebagai mahasiswa dan pembantu di salah satu lembaga pendidikan, aku mulai membiasakan diri dengan menulis dikala waktu yang begitu padatnya, selalu saja aku sempatkan untuknya. Banyak hal baru yang kuperoleh, mulai dari tugas baru, kegiatan baru, dan masalah-masalah lucu baru. Rasanya menyenangkan namun melelahkan, namun ada kalanya aku merasa tertekan dan frustasi.
Pada suatu saat aku pernah menangis berlarut larut bukan karena kesakitan setelah jatuh, namun yang aku tangisi adalah karena merindukan orang rumah…. tapi apalah daya. Kerinduan ini bukan tanpa alasan, begitulah yang aku rasakan setiap setelah bertemu orang tua. Mungkin ini akibat tak lama berjumpa denganya, sekali berjumpa pun tak lama. Aku ingin mlakukan banyak kegiatan, namun dengan waktu yang sangat singkat dalam sehari, kebutuhanku untuk tidurpun sudah terpotong, aktivitas kuliahku dan lainnya, aku tidak bisa mencapai semuanya., bahkan… aku sampai menyalahkan diriku sendiri. Namun aku tetap percaya diri, di balik semua kepahitan yang aku rasakan saat ini pasti ada buahnya walaupun sedikit. Aku percaya itu.
Mulai akhir pekan ini aku, seorang yang masih belajar dan terus belajar memberanikan diri untuk membiasakan menyusun buah pikir otak saya sendiri dengan mengetik kata demi kata dengan perasaan sedikit sabar dan apa adanya, yang ku tuangkan di dalam sanubari yang terdalam, lalu saya letakan di salah satu wadah baik itu website ataupun yang lainya.
Terkadang aku suka berfikir bahwa aku ini bodoh, apa lagi aku suka membandingkan diriku sendiri dengan orang lain yang memang keahlianya lebih baik dibandingkan aku (baik karena jam terbang atau memang keterampilan dari lahir). Keadaanku kemudian bertambah buruk karena bertemu dengan teman teman yang banyak mengikuti organisasi di kampus & banyak pengalaman-namun menyenangkan sekali sekali dan super sibuk, sehingga membuatku kurang bersosialisasi antara sesama temanku maupun terhadap teman lainya. Lebihnya lagi kalau aku bertemu dengan teman sekelasku yang sangat tinggi ilmu sosialnya, terasa aku ini “..Arghhh…”
Ya murobbi ruuhii… kata itu bisa merepresentasikan impresiku pada dia lah ya… di kala ku sedang bersedih selalu saja aku memandang beliau, hanya dialah yang dapat melunturkan perasaan yang kacau dan rapuh ini, nasihat nasihat beliau selalu terbenak dalam sanubariku walaupun terkadangku melalaikanya. Namun, entah mengapa hati ini sangat sejuk jika mendengar suaranya, walaupun hanya melihat bayanganya itu sudah menjadikan penawar bagiku di kala hati ini sedang bersuka.
Yang akan kusampaikan dalam tulisan ini adalah kesadaranku untuk berhenti sejenak, berhenti dalam artian, tidak perlu terburu-buru dalam menginginkan sesuatu baik itu harapanku ataupun harapan keluargaku (impianku),aku selalu pasrah kepada Allah sang pencipta segalanya. Namun, di balik itu semua perlu adanya kerja keras yang sangat keras, tidak hanya menunggu hasil, apapun yang bisa kulakukan sekarang pasti kulakukan dengan rasa ikhlas dan sabar sembari menganggap diriku “bukanlah apa-apa”.
Semenjak aku berkuliah di awal sampai sekarang ini aku baru merasakan pada saaat ini, merasakan dimana kisah kisah alur hidup itu memang berbeda beda, aku tidak kaget namun aku terkadang heran, dengan orang yang terkadang membuatku arghhh….. resah. Tapi, aku tetap santai dan mencoba untuk tetap menjalani hidup dengan biasa saja, dan bodo amat.
Setiap hari aku mengalami rasa takut, khawatir, perasaan bersalah, kecewa, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Badanku sering menolak untuk memulai sesuatu karena tubuhku ini lelah, sementara pikiranku memintaku untuk menyelesaikan apa yang aku mulai.
Hari demi hari aku selalu di hantui oleh berbagai tugas, entah itu tugas pondok maupun tugas kuliah, apalagi pada masa ujian sedang berlangsung, dari itu aku belajar bagaimana me-management waktu dengan baik dan tepat, karena kalaupun aku lalai, mesti akan bertambah buruk bagiku kedepanya, maka dari itu aku mencoba untuk membiasakan diri berubah dari hal-hal kecil, aku beranggapan kalau perubahan sekecil apapun itu kalau berjalan rutin pasti hasilnya akan menjadi besar.
Dilema dan bingung yang selalu datang setiap hari, namun aku bisa melewatinya dalam waktu 24 jam perhari. Aku menyadari kalau waktu yang singkat untuk menyatakan aku “sehat”, namun aku menyatakan kalau aku sudah lebih baik… minimal lebih baik dibanding aku yang dulu. Pernyataan ini mulai kudapat setelah ibuku mengingatkanku kalau aku sudah melakukan banyak hal, aku sudah melakukan yang terbaik untuk diriku saat ini, diriku masalalu telah membantuku sampai tahap ini. Oleh karena itu, aku harus mempersiapkan diriku yang sekarang untuk diriku masa depan, NAMUN… caranya saja yang akan berbeda dengan aku yang sebelumnya.
Pada waktu lampau aku terfokus pada impianku, aku ingin besar aku ingin terkenal aku ingin mengejar impian yang mungkin saja tercapai.
TAPI AKU SALAH BESAR!!!
Aku jadi terlalu ambisius. Sebenarnnya that not a bad thing, hanya saja untuk mencapai sesuatu, perlu adanya pengorbanan, dan pengorbanan yang selalu kulakukan adalah pengorbanan kepuasan emosional.
Masalah perasaanku ini berujung pada putusan untuk mengorbankan beberapa pencapaian dilingkungan sosial, menghentikan diri untuk membandingkan diri dengan oranglain serta fokus untuk membahagiakan diri sendiri. Ada beberapa hal yang membuatku merasa “sayang” bila kesempatan yang ada di depan mataku tidak diambil, namun disaat yang sama …. aku bahagia karena tubuhku ini bisa beristirahat dan aku bisa mencari hiburan lain untuk diriku sendiri.
Pada saat ini kau mulai sadar bahwa kebahagiaanku tidak hanya muncul ketika aku mencapai sesuatu, tapi karena aku memutuskan untuk bahagia untuk diriku sendiri. Tanpa terlalu memaksakan untuk diriku sendiri sekalipun tetap bisa membuatku tersenyum dan menikmati hari-hariku lebih menyenangkan. Bahkan aku yang pernah menyatakan “malas itu berbahaya” bisa menyimpulkannya menjadi “malas itu menyenangkan” tapi ya jangan malas terus, malas terus kebo namanya ”.
Aku memperlambat aktivitasku, aku menikmati saat bersantai di kampus, aku mulai menyesuaikan tugas tugasku saat ini, dan hal ini membuatku tidak terlalu fokus untuk masa yang akan datang. Namun, aku jadi bisa menikmati apa yang bisa kulakukan saat ini. Waktu 24 jam sebenarnya tidak secepat yang dikira namun tidak selambat yang dirasa…. Hal ini tergantung bagaimana kamu menggunakan waktumu. Kalau saat ini, aku menggunakan waktuku untuk menikmati hari-hariku agar bisa bahagia untuk diriku…. Dan disini…. aku tahu… pemenuhan duniawi (makan, tidur, hiburan, dan malas-malasan) dan itu juga diperlukan ihiirrrr…
Mungkin aku seperti berhenti untuk menggapai sesuatu atau memperlambat laju cita-citaku, namun keputusanku untuk menghentikan aktivitas ini… malah membuatku melangkah jauh untuk menjadikan diriku lebih baik dan bahagia.
Sedikit masukan buat pembaca.Sedikiiit…. “Teruslah berbuat selagi itu masih di jalan yang baik”.
Komentar
Posting Komentar